Wednesday, October 30, 2013

Oleh-oleh Malang : Kecele SEPEDA MONTOR

Sebenernya sudah bulan Juni lalu sih oleh-oleh ini saya bawa dari kota Malang, tapi sampai saat ini masih bikin saya senyum-senyum sendiri kalo inget hal tersebut.

Cerita ini mengenai kunjungan ke kota Malang beberapa bulan lalu, untuk maksud pendaftaran dan lapor diri anak saya Karina di Universitas Brawijaya , Malang.

Jauh sebelum pengumuman hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) keluar, bahkan sebelum ujian negara SMA dilaksanakan (ini emang lebay banget), saya sudah ancang-ancang cari tempat kos di kota Malang buat anak saya, salah satunya dengan minta bantuan teman saya dari Kompasiana dengan cara kirim-kiriman pesan inbox.

Kok yao yakin banget, bakal bisa kuliah di Universitas Brawijaya. Tapi itulah saya… selalu yakin dan 5 langkah duluan. Kadang sifat saya ini disebelin abege-abege dirumah (dua anak gadis saya) yang sifatnya seperti rata-rata abege pada umumnya.

“Mama nyantai aja kaleee..”

“Gemana mau nyantai, wong masa depan kalian aja belum jelas. Jangan seperti gadis-gadis yang pada berantem di Kompasiana, nggak mutu banget, masa depan masih ‘nggomblang’, malah ngeributin soal eksistensi di dunia maya”.

Singkat cerita, Ndilalahe… (minjem istilah bude Sarmi), anak saya lolos SNMPTN. Maka hari itu juga saya telpon sono-soni cari info kos.

Saya      : Halo pak Edi, saya dapet info nama bapak dari mbak Artem Kompasiana

Pak Edi : Mbak Artem siapa ya? Kompasiana apa?”

Wah gimana njelasinnya nih??

Saya      : Yahhh pokoknya Kompasiana deh pak. Tapi itu ga penting, maksud saya telpon bapak, cari tempat kos putri untuk anak perempuan saya.

Pak Edi : Ooo.. itu toh. Ada, beberapa kamar kosong disini

Saya : Letaknya kalau dari FISIP jauh nggak pak ?

Pak Edi : Ini letaknya sebrangnya gedung Fakultas Ilmu Administrasi, sebelah warung bakso mbah Jo

Saya : Wah agak jauh ditempuh jalan kaki yah pak dari FISIP ? Ada angkot nggak pak, yang masuk sampai depan FISIP?

Pak Edi : Ya nggak ada tho mbak..  Naik sepeda aja mbak, anak-anak kos sini 90% mbawa sepeda ke kampus.

Wah kalo begitu bukan masalah dimana Karina akan kos, mau di Watugong, Kerto, MT Haryono, Veteran, Soekarno-Hatta, yang penting masih seputar kampus, toh bisa bawa sepeda.

Saya : Baik pak, nanti tanggal 17 Juni saya ke Malang, saya akan lihat tempat kos-kosan bapak.

Terbayang suasana kampus yang ramah lingkungan, dan mahasiswa-mahasiswinya naik sepeda. Sederhana.
Singkat cerita, tanggal 17 Juni saya dan Karina sudah ada di Malang.  Setelah cek in hotel, naro koper, dan langsung naik taxi, survey lokasi kampus dan kos-kosan.
Supir-supir taxi yang saya tumpangi selama di Malang, rata-rata ramah dan murah informasi.
Sebelum sampai di area tempat kos-kos an yang dituju, kami berkeliling kampus dulu.

Saya : UB luas sekali ya pak.

Sambil melihat-melihat bangunan Universitas Brawijaya dari dalam taxi

Supir Taxi : Ya luas sekali mbak. UB ini kebanggaan kota Malang.

Saya : Katanya sebagian besar mahasiswa UB naik sepeda ya pak ke kampus ?

Supir Taxi : O iya, hampir 90%

Saya : Tapi saya dari tadi kok nggak lihat ada satu sepeda-pun parkir ?

Supir Taxi : Lha itu apa bukan sepeda ?

Supir taxi menunjuk pelataran parkir

Saya dan Karina membuka kaca jendela dan melongok keluar !!



Saya : Itu kan motor pak?

Supir Taxi : Ya itu sepeda

Saya : Yang saya maksud ’sepeda’, pak, kok nggak ada?

Supir Taxi : Maksudnya mbak ‘sepeda pancal’ ?

Supir Taxi (dalem hati)  :
Hare gene mbak… masih mikir ‘Sepeda Pancal’





Huahahahahah…. Saya dan Karina tertawa setelah paham yang dimaksud SEPEDAH disini, adalah MOTOR.

Xixixxi, jadi merah padam nih pipi, sudah ngebayang-bayangin bagaimana cara membawa sepeda lipat ke bagasi pesawat, ternyata salah kaprah.



Friday, October 25, 2013

Anonymous, nggak sopan.

Sebenarnya saya ‘risih’ dengan comment-comment dari Anonymous di blog, masuk dengan segubrak pertanyaan, tanpa menyebutkan nama. Kira-kira sama dengan seperti  ini :

Saya sedang menunggu di shelter bus di daerah Rawamangun, kemudian ada yang nyolek tangan saya, kemudian orang tak dikenal tersebut langsung nyerocos begini : 

“eh mbak, kalau mau ke Pasar Genjing arahnya kemana? Ada bus yang langsung nggak? Abis naik bus ini trus nyambung naik apa lagi? Kalo mau beli rambutan di Pasar Genjing udah musim belum? Trus rumah makan padang disebelah pasar genjing buka nggak?”

Saya, yang kebetulan tinggal di area yang ditanyakan tersebut tentu mengetahui dengan fasih area tersebut dan tentu saja bisa menjawab sebagian besar pertanyaan si  Anonymous shelter tersebut (kecuali soal rambutan, emangnya gue preman pasar yang tahu apa aja yang didagangin pedagang pasar genjing!). 

Tapi bagaimana reaksi pertama saya? … Saya akan mengernyitkan alis mata, nyureng, dalem hati bilang  “siapa elu? Nggak sopan banget”

Tapi karena saya melihat wajah ndeso si Anynomous shelter ini, yang tampaknya akan nyasar ke ‘ALAS ROBAN’ apabila tidak saya kasih tau, maka saya jawab juga pertanyaan-pertanyaan tersebut walau (kadang) dengan nada jutek.

Masing-masing orang mungkin beda menanggapi case seperti itu. Saya pernah ada di posisi kurang lebih mirip si Anonymous di shelter bus cerita diatas, mungkin agak berbeda cerita tapi intinya sama : sama-sama dianggap NGGAK SOPAN.

Saya diantar supir pribadi (pinjem supir dari kantor Surabaya), berkeliling Surabaya mencari alamat sepupu saya. Mobil kami berhenti di depan bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di sebuah teras rumah, saya buka kaca mobil, dan :

“Permisi Pak, tau jalan Dukuh Kupang TImur 15, nggak?”

Dicuekin.
Sekali lagi, masih dari dalam mobil, saya bertanya :

“Maaf Pak, numpang tanya (bukan ‘numpang-numpang anak bagong mau lewat..’ hahaha), jalan Dukuh Kupang Timur dimana ya Pak”

Dibentak :

“SI MBAK-NYA TURUN, KALO MAU TANYA!”

Supir saya langsung bilang : “Bu, disini kalo tanya-nya seperti itu dianggap ndak sopan, baiknya Ibu turun”.

Upsss… taunya Bapak-bapak tersebut aslinya baik, setelah saya turun mobil, bertanya langsung, mereka mengarahkan dengan baik dan ramah. Cara saya bertanya sebelumnya tidak berkenan buat mereka.

Kesimpulannya dari dua cerita diatas,  dengan cara bertanya seperti itu :
  • Sama saja dengan menganggap enteng orang lain (cerita di Surabaya)
  • Sama saja seperti bertanya nyerocos tapi sambil ‘buang muka’ (Anonymous di Shelter bus) 
  • “Lu ga perlu tau siapa gua, yang gua perlu cuma informasi Lu” (Anonymous di blog).

So, sebutkan nama  ya… apabila ikutan ‘nimbrung’ tanya jawab di blog ini. 

Selain itu, saya ucapkan banyaaaaaaaaak terima kasih kepada Anonymous yang selalu membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca yang tidak bisa saya jawab, ataupun yang kelewat tidak terjawab. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda.


Wednesday, October 16, 2013

Kejahatan itu namanya FITNAH

Setelah saya menyadari, nama kejahatan itu adalah FITNAH, saya berdo'a : semoga orang yang dihasut segera sadar dan melihat kebenaran

A'udzu billahi mina'sy-shaytani 'r-rajim Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dangan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sebenarnya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat:6)

Anda penebar fitnah, semoga fitnah dikembalikan kepada diri Anda sendiri.

Hanya orang yang berpekerti buruk melahirkan perkataan buruk. Orang cerdik tidak sekali-kali mengeluarkan perkataan buruk, itu secara langsung melambangkan keburukan diri sendiri.

Aamiin ya Rabb.



Wednesday, October 9, 2013

Rok seragam kependekan

Dulu jamannya saya SMA yang menandakan Gaul atau tidaknya seorang siswa bisa dilihat dari cara kita melinting (melipat keatas) lengan kemeja seragam , satu lintingan artinya Gaul, dua lintingan artinya Gaul banget, tiga lintingan… hahaha... pake tengtop aja sekalian.
Saya masuk yang mana??? 
Liat aja nih poto jaman saya SMA, dan hitung sendiri berapa lintingan di legan kemeja saya.

Masih cerita soal seragam SMA, tadi pagi saya ditelpon dari sekolah Vira, gurunya complaint karena Vira rok nya kependekan.  
Seragam Vira hari Selasa : kemeja putih  lengan pendek + rok abu-abu panjang semata kaki.

Pak Amir : Selamat pagi, Ibu orang tuanya Vira ?

Saya : Iya pak, selamat pagi, ada apa dengan anak saya ? (deg-degan nih..)

Pak Amir : Hari ini saya melihat Vira memakai rok yang salah

Saya : Lha hari ini jadwalnya seragam putih abu-abu kan Pak?

Pak Amir : Iya tapi roknya kependekan

Saya : Tolong ditanyakan ke Vira rok nya ukurannya apa?

Terdengar suara Vira agak teriak : M

Saya : Itu ukuran yang sebenarnya Pak, kami tidak memendekkan apalagi merubah model yang sudah ditentukan sekolah.

Anak-anak gaul SMA jaman sekarang bisa dilihat dari cara berpakaian : Rok dibikin pendek di bawah betis (diatas mata kaki), kemeja dibikin ketat 'mlecet' . Tapi Vira tidak seperti itu, saya memberikan pakaian seragam kepada Vira, baik kemeja ataupun rok, yang sesuai dengan ukurannya, tidak di modif.
Guru-guru disekolah ini mungkin sudah pada 'parno' dengan gaya gaul anak-anak di sekolah, sehingga Vira kena imbas.

Saya : Tolong diijinkan anak saya tetap mengikuti pelajaran di kelas, jangan disuruh keluar. Masalah rok kependekan, itu karena Vira sudah bertambah tinggi sehingga kelihatan roknya agak ngatung , bukan sama sekali karena di modif.
Kalau untuk beli baru, saya belum sempat, harus tunggu hari Minggu, baru saya bisa ke pasar.

Pak Amir (nada suaranya merendah) : Tidak perlu beli rok baru Bu, dibuka saja jahitan dibawah.

Saya : Ok Pak, nanti malam kalau sempat, dan terima kasih atas infonya.

Pak Amir : Baik bu.

Tut tut tut tut tut… (suara nada telpon setelah ditutup)