Tuesday, October 24, 2017

P r i b u m i

Terlepas dari pidato yang katanya menghebohkan mengenai kata Pribumi, saya jadi tergelitik untuk menulis mengenai cerita kakek nenek saya dari pihak Ibu dan dari pihak Bapak saya.

Agak njlimet memahaminya, tapi ada cerita menarik mengenai kakek nenek saya saat jaman kolonial dulu.

PRIBUMI menurut Wikipedia Indonesia https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi
Pribumiorang asliwarga negara [...] asli atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya. Pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut.

Secara garis lurus dari pihak ibu dan bapak saya, JELAS pribumi, karena lahir dari orangtua yang terlahir di Indonesia. Artinya kakek nenek saya dari kedua belah pihak juga lahir di Indonesia, tapi apakah kakek nenek saya lahir dari orangtua yang lahir di Indonesia juga?
Kalau ternyata orangtua dari kakek/nenek saya adalah pendatang dari negara lain, artinya, kakek nenek saya tidak berhak disebut pribumi (kalau menilik info Wikipedia diatas).

Mari kita masuk ke jaman kolonial, mencoba meresapi penuturan mbah putri saya dan meresapi cerita ibu saya mengenai bapaknya yang adalah kakek saya langsung.

Di jaman Kolonial dulu, kampung bapak saya di Banyuwangi sana, sering dijadikan sasaran bombardier Belanda. Karena Belanda mengetahui banyak pemuda kampung sana jadi pejuang. 
Suatu saat belanda sweeping masuk kerumah-rumah mencari pemuda dan dicurigai salah satu rumah menjadi gudang senjata (aduhhh serem..).
Keluarga bapak saya sering mendapat perlakuan berbeda dari para kompeni tersebut, dan tidak menggeledah rumah, hanya karena bapak saya sekeluarga kaka beradik berwajah mirip eropah.
Keuntungan ini dimanfaatkan oleh pemuda untuk menimbun semua senjata dirumah bapak saya (gile bener.. mempertaruhkan nyawa)

Sweeping pertama rumah bapak saya tidak digeledah
Sweeping kedua masih lewat, tidak digeledah
Sweeping ketiga, para OPAS mulai curiga karena dapat bocoran dari mata-mata
Mungkin belanda pikir “ini keluarga muka eropah tapi kelakuan verdomah” (hehe)

Saat para serdadu mulai memasuki kampung, maka para leluhur dan pemuka adat mulai bertindak, rumah bapak saya dibuat hilang dari pandangan opas dan serdadu belanda.
Hilang ? ya benar hilang dari pandangan mereka!
Jaman dulu santet dan ilmu hitam di Banyuwangi cetar namber wan.

Maka selamatlah rumah bapak saya, selamatlah pemuda Indonesia.

Cerita keluarga ibu saya berbalik 180 derajat dari sejarah keluarga bapak saya.
Kakek saya dari pihak Ibu berwajah mirip jepang, dan punya andong yang ditarik dengan 2 kuda bermana Kitri dan Sengon. 
Saat agresi Belanda ke dua, kakek saya yang sedang mengendarai andong, tiba-tiba ditangkap dibawa ke markas Belanda, ditahan selama 3 hari tidak pulang kerumah. 
Keluarga bingung karena Kitri dan Sengon pulang sendiri tanpa kakek saya. Setelah diusut, ternyata kakek saya ditangkap karena dianggap jepang yang menyusup.

Berkat perjuangan keluarga dan ketua adat setempat kakek saya dikembalikan kerumah, karena kakek saya pancen wong jowo asli Mediun.

Jadi begitulah kisah kami yang sebenarnya pribumi tapi pernah diperlakukan istimewa oleh belanda sekaligus diperlakukan tidak mengenakkan hanya karena berwajah tidak pribumi. 

Jadi pribumi letaknya dihati, bukan di postur.
Suami saya, meskipun posturnya bukan pribumi, tapi hatinya lebih pribumi daripada saya. 


Happy Tuesday pribumi..


No comments:

Post a Comment