Friday, March 16, 2018

HUTANG


Sering merasa serba salah, dan akhirnya feeling guilty ketika menolak permintaan hutang dari orang-orang dekat.
Seseorang memberi hutang seringkali bukan karena uangnya berlebih, tapi lebih karena mendahulukan si penghutang dengan men-skip kebutuhan lain yang sudah di forecast-kan.
Ketika saya mendahulukan penghutang, pertimbangannya karena dia memerlukan mendesak.
Tapi ketika keadaannya terus-terusan mendesak, mau ga mau saya harus bisa bilang NO. Itu namanya never ending story

Begini adabnya Hutang piutang dalam Islam, yang saya ambil dari berbagai sumber :
  1. Ada perjanjian tertulis dan saksi yang dapat dipercaya.
  2. Pihak pemberi hutang tidak mendapat keuntungan apapun dari apa yang dipiutangkan.
  3. Pihak piutang sadar akan hutangnya, harus melunasi dengan cara yang baik (dengan harta atau benda yang sama halalnya) dan berniat untuk segera melunasi.
  4. Sebaiknya berhutang pada orang yang shaleh dan memiliki penghasilan yang halal.
  5. Berhutang hanya dalam keadaan terdesak atau darurat.
  6. Hutang piutang tidak disertai dengan jual beli.
  7. Memberitahukan kepada pihak pemberi hutang jika akan terlambat untuk melunasi hutang.
  8. Pihak piutang menggunakan harta yang dihutang dengan sebaik mungkin.
  9. Pihak piutang sadar akan hutangnya dan berniat untuk segera melunasi.
  10. Pihak pemberi hutang boleh memberikan penangguhan jika pihak piutang kesulitan melunasi hutangnya.

Bahaya, apabila point nomor 5 diabaikan, misal, karena pingin membeli kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting, karena pingin pegang duit banyak, tapi uangnya dapat dari hutang sana-sini, akibatnya berhutang lagi untuk gali lubang tutup lubang. Yang seperti ini yang parah, karena dari awalnya sudah salah.

Hadist Riwayat HR.AL-Bukhari dibawah ini, tepat untuk kondisi si penghutang tsb :

“Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta 
dan berjanji, lantas memungkiri” (HR. AL-Bukhari)

Bener banget! Karena si penghutang jadi sering kasih alasan bohong untuk mendapatkan hutang berikutnya.
Kasihan, benar, tapi lebih kasihan lagi kalau kita kasih terus menerus, maka dia tidak akan belajar bagaimana caranya hidup menyesuaikan penghasilan, bukan lebih besar pasak daripada tiang.

Berhutang memang diperbolehkan, namun menghindarinya adalah lebih baik
Setiap rezeki sudah diatur oleh Allah SWT, hanya tinggal bagaimana kita menjemput rezeki tersebut, terutama agar mendapatkannya dengan cara yang halal.
Jangan mudah tergiur dengan kemewahan sesaat, perbanyaklah berdzikir dan berdoa agar diberi rezeki yang halal dan berkah.
Jika memang sangat amat terpaksa untuk berhutang, maka itu lebih baik dilakukan daripada berbuat maksiat seperti mencuri. Tapi harus diingat, tujuan berhutang adalah murni untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara yang baik pula. Serta, harus diniatkan untuk segera melunasi hutang agar tidak menjadi penghalang di akhirat nanti.

"Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau membayarnya, maka dia akan bertemu Allah 
(pada hari kiamat) dalam status sebagai Pencuri." (HR Ibnu Majah)


---------------
kauyangberjanjikauyangmengingkari 

No comments:

Post a Comment