Thursday, August 30, 2012

SIM Internasional


Karena suami mau visit Jakarta untuk waktu lumayan lama dalam waktu dekat ini, kemaren saya antar suami perpanjang SIM internasional di RACV Melbourne.
Cuma 5 menit! Sim langsung jadi.
"O terang aja, cuma perpanjang, kalau bikin baru bagaimana?"
"Ya sama saja, Cuma 5 menit"  Karena data semua warga negara sudah ada di database mereka, jadi tinggal kasih poto baru, dan printout, selesai.

Ckckckckck… kagum saya dibuatnya.

Kebayang waktu saya buat SIM A beberapa tahun lalu di Daan Mogot Jakarta, hampir seharian baru selesai, karena harus melewati bererapa tes : tertulis dan tes lapangan. 
Dari mulai penampilan manis bersih, sampe lecek dan kucel. 
Parahnya, sesi pemotretan adalah sesi paling belakangan, jadi poto saya di SIM bener-bener mengecewakan, mirip kayak orang abis melahirkan dan ngemut permen crackes (itu lho, permen yang kalo masuk mulut ada sensasi meledak2 di mulut.. hehe), pucet boo karena kecapean, dan pipinya kebi (karena kesel), trus matanya di belo-belo in supaya keliatan tersenyum. Pantes aja petugasnya waktu ambil poto bilang gini :

“Tampil yang manis dan wajar ya.. karena ini untuk 5 tahun lho”

Hihihih.. mungkin si petugas melihat wajah saya aneh kali ya waktu di poto.

Ya sudah lah, bentar lagi juga itu SIM abis masa berlakunya, dan akan diperpanjang tentunya dengan poto baru.
Sekarang ini sudah mulai ada ide kira-kira mau pake baju apa dan dandan bagaimana untuk pemotretan SIM nanti…. 
Mmmmm… gaya sasak tinggi Mien Sugandhi Ok kali ya? Kebaya dan konde cepol!
Hahahah… seneng banget berangan-angan semau gue.

Balik lagi ke Melbourne, saya juga melihat suami saya mengisi bensin, isi sendiri , selesai kemudian bayar.
Kebayang aja, bisakah hal itu dilakukan di Indonesia, terutama Jakarta ?? Ngebayanginnya aja saya sudah ketawa sendiri, mungkin akan gulung tikar sebagian besar pengusaha bensin, karena pembelinya habis isi langsung cabut (sama seperti kondangan, abis makan, salaman trus cabut.. lho amplopnya mana?? Hahahaha). Trus siapa yang mau nguber itu pengisi bensin yang cabut??  Bisa-bisa jalanan di Jakarta isinya Cuma polisi CHIPS uber2an sama pengisi bensin …
Hhahahahah.. sekali lagi, seneng banget berangan-angan semau gue.

Di Melbourne berkendara dijalan juga sangatttt sabar, mungkin tepatnya patuh dengan aturan, ada zona 40KM di dekat2 sekolah, bila dilanggar kecepatannya langsung ke potret otomatis dan tagihan sekitar AU$ 200 segera dikirim kerumah (hampir 2 juta booooo!). Dimana-mana kamera (polisi nganggur deh). 
Biasa nyetir di Jakarta (dimana ada kesempatan sikatttt..), saya ga berani nyetir di Melbourne yang serba tertib ini, bisa ngebangkrutin dompet suami (hehe).


Wednesday, August 29, 2012

SOSIS ASAM MANIS

Melbourne lagi winter, dingin, jadi bawaannya mau deket-deket kompor terus ..hehe.
Tadi siang sambil browsing, memanfaatkan bahan yang ada di kulkas, maka jadilah SOSIS ASAM MANIS. Ini resepnya :

Bahan :
  • 3 BBQ Sausage
  • 5 Buncis, potong-potong sesuai selera
  • 3 Kacang panjang, potong-potong sesuai selera
  • 1 Bawang bombai ukuran sedang, potong memanjang
  • 1/2 sdt Garlic Salt
  • 3/4 sdt Gula pasir
  • 1 sdt Olive oil
  • 4 sdm Tomato saus
  • 1/2 gelas Air matang 
Cara buat :
  1. Goreng BBQ Sausage (sosis) setengah matang, angkat, potong-potong sesuai selera
  2. Tumis bawang bombay, masukan Garlic salt, Gula pasir
  3. Masukan sosis, aduk merata
  4. Masukan Buncis dan Kacang panjang
  5. Masukan Tomato saus, aduk merata
  6. Masukan air matang, aduk merata
  7. Masak sampai air berkurang
  8. Terakhir masukan Olive oil, kemudian angkat.
  9. Hias dengan irisan mentimun dan salad
  10. sajikan dengan nasi hangat.



Thursday, August 9, 2012

AYAM GULAI CABE IJO

Ayam gulai cabe ijo ini juga salah satu resep fave keluarga, memang agak pedes, tapi bisa-dikurangi jumlah cabe rawitnya sesuai selera. Kebetulan anak-anak tidak terlalu suka pedes, jadi takaran cabe rawitnya saya sesuaikan dengan selera anak-anak saya.
Ini dia resepnya :

Bahan :
  • 1 ekor ayam ukuran sedang (potong 12 bagian)
  • 1 buah Jeruk nipis
  • Garam secukupnya
  • 1/2 butir Asam kandis
  • 1/2 gelas Air kelapa
  • 2 gelas Air panas
  • 3 lembar Daun salam
  • 6 lembar Daun jeruk
  • 1 batang Sereh (dikeprek)
  • 2 sdm Minyak sayur untuk menumis
Tumbuk kasar bersama garam dan 1/2 sdm air jeruk nipis (ini trik supaya cabai tidak berubah warna saat di tumbuk/ di ulek) :
15 Cabe hijau besar (bukan yang keriting)
3 Cabe rawit hijau (atau jumlahnya disesuaikan dengan selera)

Bumbu halus :
  • 12 butir Bawang merah
  • 6 butir Bawang putih
  • 5 butir kemiri
  • 3 ruas Jahe
  • 1 ruas Lengkuas
Cara buat :
  1. Lumuri ayam yang sudah dibersihkan dengan air jeruk nipis dan garam, sisihkan.
  2. Tumis bumbu halus sampai harum
  3. Masukan daun salam, daun jeruk, sereh, asam kandis dan garam. Oseng hingga harum
  4. Masukan cabai yang sudah ditumbuk/diulek, aduk sebentar supaya tercampur dengan bumbu halus
  5. Masukan ayam, air kelapa, air panas, aduk agar ayam terendam dalam bumbu
  6. Masak dengan api kecil supaya bumbu meresap pada ayam, hingga air habis dan keluar minyak.
  7. Angkat dan hidangkan dengan nasi hangat.
eehhh, tapi jangan lupa dipoto dulu ya...


Friday, August 3, 2012

Kampung Jakarta-ku

Kangen suara 'gedombrangan' orang bangunin saur. Dulu dirumah ibu saya, setiap kali puasa, dari mulai hari pertama sampai dengan malam takbiran, setiap malam mulai jam 2:00 am sampe jam 3:30 am, sudah banyak musik keliling, dari mulai dangdut, kesidahan sampe anak2 kampung yang teriak-teriak bawa tabuhan seadanya, semuanya pada teriak “sauuurrrrrr.... sauuuuuurrrr... sauuuurrrr,,,, sauuurrr"
Sekarang dirumah saya ini, saur begitu sepi, cuma kedengeran suara satpam keliling dengan bunyiin klakson motor, sambil sekali-sekali bunyi “sauuur bu/pak”.
Nggak seru babarblasss!!


Setiap bulan puasa saya selalu teringat masa kecil.
Kangen Jakarta jaman saya SD, dimana di dekat mushola masih banyak pohon kelapa. 
Kalau pergi mengaji ke mushola habis magrib, saya dan teman-teman bawa obor untuk melewati kebon kelapa itu karena saat itu listrik belum merata masuk kampung.
Kalau ngajinya sore, seringkali habis pulang ngaji saya dan teman-teman latihan manjat pohon kelapa yang batangnya di kerat-kerat supaya ada panjatan kaki untuk menuju atas. 
Saya belum pernah bisa sampai atas, palingan sampai setengah sudah melorot lagi. 

Belum sempat saya berhasil sampai atas, kebon kelapa dijual yang punya kebon, ke orang kaya pendatang, maka pohon-pohonnya mulai ditebang, dibangun rumah mewah (pada saat itu). Kebon kelapaku hilang, gantinya tiang listrik berjajar disepanjang jalan, ada pemerataan listrik masuk kampung.
Teman-teman saya yang nekat, memanjat tiang listrik sebagai pelampiasan pengganti memanjat pohon kelapa (saat itu baru tiang-tiangnya saja, kabelnya belum dipasang), tidak pernah ada yang sampe keatas, karena besi-besi itu tidak bisa dikerat-kerat. 
Saya tidak pernah berniat memanjat tiang listrik, karena letaknya kelihatan dari rumah, Ibu saya pasti akan ngomel-ngomel, kira-kira seperti ini : 

"bocah wedok mboten pareng manjat-manjat. bocah wedok pantese lungguh ayu nang omah"  

hihihih... Ibu nggak tau bahwa saya sering manjat pohon kelapa.

Di kampung sebelah ada banyak pohon jamblang maka disebut gang jamblang, ada banyak pohon sawo maka disebut gang sawo.

Sekarang situasi kampung beda, padat dan banyak etnis pendatang mendominasi kampung Jakarta saya. hilang warna kampung saya yang dulu.